Jumat, 17 Februari 2012

Jalan-jalan Pasar

Sabtu Pahing, 18 Februari 2012. Hari keempat liburanku terhitung sejak pertama kali menginjakkan kaki ke Stasiun Lempuyangan, Jogja.


Tidak ada yang istimewa. Semua berlalu biasa saja. Tapi justru karena biasa itulah yang membuatku senang ada di sini. Desa Wiladeg, Karangmojo, Gunungkidul ini tetap sejuk dan cantik. Mungkin itu sebabnya aku selalu terjaga setiap menjelang pagi. Setelah kuambil air wudhu dan sholat shubuh, tak kupasang lagi selimut tebal itu menghangatkanku. Padahal biasanya ketika ada di Bintaro atau ketika keluargaku masih tinggal di Sragen, salah satu kenikmatan pagi yang tak pernah kutinggalkan adalah tidur lagi setelah menunaikan ibadah sholat shubuh. Entahlah. Seperti ada kepuasan tersendiri ketika bisa mengakali pagi dengan melanjutkan tidur setelah sholat shubuh dalam empat sampai lima jam ke depan; setelah seminggu penuh harus bangun pagi untuk masuk kuliah.
Sedangkan di sini, di Gunungkidul ini, kebiasaan itu tak kulakukan. Badanku ini seperti tak mau melewatkan pergantian malam menjadi pagi. Pemandangan menakjubkan diselimuti udara pagi yang dingin tapi segar. Dingin yang tidak berlebihan seperti ketika ada di Puncak.

Hari ini adalah Pahing dalam penanggalan Jawa. Pahing adalah jadwal pasaran di Karangmojo. Yap! Pasar di sini tidak ada setiap hari. Hanya pada weton-weton tertentu (weton: Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing). Dan pagi-pagi buta tadi Ibu sudah ribut ngajak ke pasar. Beliau butuh kuli panggul kesayangannya: Aku. 


Dengan senang hati kuantar Ibu ke pasar. Karena tempat itulah tempat paling menyenangkan di dunia menurutku. Melihat hiruk-pikuk para mbok-mbok desa menawarkan dagangan mereka membuatku takjub. Terasa sekali perjuangan mereka menghidupi keluarganya masing-masing tanpa kenal lelah. Terlebih setelah tahu bahwa untuk mencapai tempat itu mereka harus berjalan belasan kilometer menaiki dan menuruni bukit dengan barang bawaan hampir tiga kali berat badan mereka sendiri.


Di sudut pasar kulihat sesuatu yang tak asing. Seorang mbok jamu menjajakan minuman berkhasiat racikannya yang khas Jawa itu dibantu anak gadisnya; atau cucu, entahlah. Ketika Ibu mangajakku untuk mendekat, tak kutolak tawaran itu.

Kupesan segelas temu ireng. Jamu berwarna hitam pekat yang rasanya pahit dengan sensasi mint. Ini jamu yang paling nikmat. Karena ramai, terpaksa kami mengantre dan terpaksa pula memperhatikan simbok meracik jamu andalannya.

Pertama, jamu yang dipesan dituang ke dalam gelas setengahnya saja. Kemudian telur ayam kampung dan madu. Terakhir diberi perasan jeruk nipis yang sebelumnya dicolekkan ke semacam pasta yang menurut mbok jamu itu adalah ramuan rahasia yang membuat jamunya nikmat. Dan setelah semua ramuannya masuk gelas. Simbok mengaduk ramuan itu dengan cara mencelupkan seluruh telapak tangannya ke dalam gelas. Yak! Lima jari itu tanpa ragu mengaduk sambil memeras jeruk nipis. Dan semua orang yang mengantre di situ akan meminum racikan jamu yang seperti itu. Dengan senang hati. Tanpa ada protes atau apa pun.

Demi melihat itu kubatalkan pesanan jamuku. Saya adalah orang yang rakus. Tapi saya tidak minum air kobokan. Ibuku yang menyadari alasanku membatalkan pesanan hanya senyum-senyum geli sambil pura-pura mencari-cari dompet.

Tapi itulah Pasar Karangmojo; dan mungkin pasar-pasar lain di Gunungkidul atau sekitarnya. Walaupun sederhana dan barangya kurang lengkap, tapi sebagian besar pengunjung pasar merasa sudah cukup dan tidak kekurangan. Dan Pahing yang akan datang, kupastikan akan kupastikan untuk ada di sini lagi lebih pagi. Tanpa membeli jamu temu ireng tentu saja.

2 komentar:

  1. Halo bang Andi ,, Saya juga dulu pernah sekali mampir ke lempuyangan. itu statiun di jogja yang agak kecilan kan ? tapi asri, masih teringat pengalaman naik kereta api progo dari stasiun senen jakarta ke lempunyangan. jam 9 malam sampai jam 8 pagi. cuma 30ribu ,, heheh

    BalasHapus
  2. woh, makasih bang ave sudah mampir ke gubug saya...

    BalasHapus