Jumat, 30 Maret 2012

Akhirnya, Setelah Sekian Lama 3

Kali ini akan kuceritakan kepada kalian sebuah benda keramat kesayangan Bapakku. Sebuah vespa tua yang beliau dapat dari almarhumah nenek karena rajin menabung. Bapak mendapatkan vespa tentu dalam keadaan masih baru sekitar 33 tahun yang lalu atau pada tahun 1979.

Vespa ini menyimpan banyak cerita menarik mengenai pengalaman bapak di masa muda dengan kawan-kawan sekolahnya, pacar-pacar lamanya, dan tentu saja almarhumah nenek. Walaupun seorang pengusaha toko kelontong yang lumayan, nenek  tak pernah menggaji orang untuk mengambil stok barang dagangan di Pasar Johar, Semarang. Melainkan memerintahkan bapak yang mengambilnya. Selain supaya hemat beban operasional, hal ini dimaksudkan untuk melatih bapak bekerja dan berwirausaha. Jadilah vespa ini sering dijadikan semacam "kontainer" pengangkut barang-barang dagangan.



Vespa ini tetap menjadi "kaki" keluarga bahkan ketika Bapak sudah menikahi ibuku dan tinggal di Malang. Setiap awal bulan, kami: Bapak, Ibu, Aku, dan Rudi adikku pergi ke Pasar Besar untuk membeli barang kebutuhan bulanan. Pernah suatu ketika, dalam perjalanan untuk sebuah ritual belanja awal bulan, terdengar suara ledakan keras. Kami kaget dibuatnya. Kami menoleh ke kanan-kiri tak ada apa-apa. Tak selang berapa lama, laju vespa menjadi oleng. Menyadari apa yang terjadi, Bapak menepikan vespa ke pinggir jalan. Sayang karena tak bisa menjaga keseimbangan, vespa kami pun terjatuh ke samping membuat kami sekeluarga ikut terjatuh. Rupanya ban depan vespa kami yang pecah (pake sok ngeliat ke kanan-kiri -,-). Untung tak ada yang terluka, termasuk Rudi adikku yang waktu itu umurnya belum genap setahun.

Tanpa disadari, vespa kesayangan bapak ini pun akhirnya menjadi vespa kesayangan kami sekeluarga. Dia terus menemani dan mengantar keluarga kami kemana pun bahkan ketika keluarga kami pindah rumah ke Sragen (1998) dan Gunungkidul (2001).

Sekitar tahun 2003, Bapak mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju Semarang ketika mengendarai vespa ini. Tulang bahu beliau patah, serta beberapa lecet dan memar di wajah dan tangan. Untunglah bapak selamat. Walaupun sejak saat itu, si vespa tidak lagi dapat dijalankan. Usaha perbaikan senantiasa dilakukan, namun karena besarnya biaya yang dibutuhkan, usaha tersebut menjadi terasa sia-sia dan lebih banyak terhenti.  Dan rangka vespa tua itu sedikit demi sedikit pun keropos dimakan waktu.

Namun, sekitar setahun belakangan, perbaikan vespa menjadi semakin giat. Bapak berpacu melawan beban depresiasi vespa ini agar tidak lebih dulu menyentuh titik nilai sisa. Rudi, adikku yang paling giat untuk "menyembuhkan" vespa keramat ini. Dia yang kini sudah duduk di bangku SMA kelas dua merasa perlu memiliki kendaraan bermotor. Dan pada akhirnya, awal tahun 2012 ini, berkat jerih payah Bapak dan Rudi, serta kru bengkel yang tidak kutahu darimana, sang vespa kembali sehat. Vespa ini akhirnya resmi menjadi hak milik Rudi, dimana dia berhak mengendarainya kemanapun ia suka.

Ketika liburan semester lima, aku berkesempatan untuk belajar mengendarai vespa tua ini. Bapak yang memanduku mengendarainya melalui jalan-jalan Gunungkidul. Malam hari adalah waktu yang kupilih untuk belajar memacu kendaraan roda dua antik yang sekilas mirip kura-kura ini. Bukan apa-apa, jalan-jalan di Gunungkidul pada waktu malam hari memang sepi. Sehingga sangat nyaman untukku melajukannya secepat mungkin. Tak terlalu sulit untukku mengendalikan si "kura-kura" ini. Seperti naik motor kopling biasa ternyata. Hanya karena mungkin belum terlalu biasa, beberapa kali kendaraan ini terasa seperti bersin-bersin  dalam kemudiku.

Ditemani hujan rintik-rintik, aku dan bapak melaju di atas vespa memecah keheningan malam dengan suara cempreng yang ditimbulkannya. Angin malam begitu menusuk tak nyaman. Hanya selembar kain jaket tipis kugunakan sebagai penangkalnya. Mulai dari Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Semin, dan pada akhirnya tak terasa, laju vespa ini memasuki wilayah Kecamatan Nglipar. Daerah yang kukenali betul sebagai tempat tinggalku bersama keluarga bertahun-tahun yang lalu. Jalan semakin sepi. Namun, keadaan itu tak membuatku tergerak untuk menambah kecepatan vespa. Aku ingin menikmati jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Nglipar dan Kecamatan Wonosari ini lebih lama. Jalan yang dulu sering kulewati ketika hendak berangkat les ke rumah Pak Topo atau pergi mengaji di TPA yang letaknya di kantor KUA. Melihat lebih jelas rumah tinggal kami yang letaknya berdempetan dengan Koramil 04 Nglipar. Dan sekolahku, SD Nglipar 2 yang gelap serta terlihat angker oleh pohon beringin yang merindang. Tak ada yang berubah. Semua masih sama seperti yang dulu. Hanya jalan raya itu agaknya mengalami pelebaran. Selebihnya hanya perasaanku yang merasa asing karena sudah lama meninggalkan tempat ini.



Dan ketika kami tiba kembali ke rumah, aku masih tak percaya bahwa baru saja melewati rumah yang pernah kutempati dan sudah lama kutinggalkan di Nglipar dengan mengendarai vespa yang lama mati suri dan kini berhasil hidup lagi atas jasa Bapak dan Rudi adikku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar