Kamis, 05 April 2012

Analogi Waktu

Sebuah teka-teki tersembunyi yang tak mudah terungkap
perubahan-perubahan mendasar
bahwa semua kita pasti mengalaminya itu fakta
bias semu mengoyak mencabik memperbarui yang lama
pura-pura memperbarui
karena pada dasarnya yang lama itu tak terganti
dan yang baru itu tak ada

hanya mereka yang benar-benar jeli akan mau tahu bahwa itu benar-benar terjadi
itu tidak janggal dan bukan ulah siapa pun kecuali selayaknya berulah
hanya mereka yang benar-benar beruntung akan mau memanfaatkannya dengan baik
itu membuatnya menjadi lebih baik dari sebelum ia memejamkan mata di matahari sebelumnya

maka ketika aku tak jeli aku tak tahu bahwa itu benar-benar terjadi
itu adalah janggal dan seseorang pasti berulah
maka ketika aku tak beruntung aku tak mau memanfaatkannya dengan baik
itu membuatku lebih buruk dari sebelum aku memejamkan mata di matahari sebelumnya

Sebuah teka-teki itu kini agaknya semakin mudah terungkap
ribuan orang berbondong membodohinya
mencoba bertahan dari gempuran-gempuran yang memaksanya berubah
melawan arus deras yang kencang menyelamatkan diri dari...
tidak ada
Selengkapnya...

Jumat, 30 Maret 2012

Akhirnya, Setelah Sekian Lama 3

Kali ini akan kuceritakan kepada kalian sebuah benda keramat kesayangan Bapakku. Sebuah vespa tua yang beliau dapat dari almarhumah nenek karena rajin menabung. Bapak mendapatkan vespa tentu dalam keadaan masih baru sekitar 33 tahun yang lalu atau pada tahun 1979.

Vespa ini menyimpan banyak cerita menarik mengenai pengalaman bapak di masa muda dengan kawan-kawan sekolahnya, pacar-pacar lamanya, dan tentu saja almarhumah nenek. Walaupun seorang pengusaha toko kelontong yang lumayan, nenek  tak pernah menggaji orang untuk mengambil stok barang dagangan di Pasar Johar, Semarang. Melainkan memerintahkan bapak yang mengambilnya. Selain supaya hemat beban operasional, hal ini dimaksudkan untuk melatih bapak bekerja dan berwirausaha. Jadilah vespa ini sering dijadikan semacam "kontainer" pengangkut barang-barang dagangan.



Vespa ini tetap menjadi "kaki" keluarga bahkan ketika Bapak sudah menikahi ibuku dan tinggal di Malang. Setiap awal bulan, kami: Bapak, Ibu, Aku, dan Rudi adikku pergi ke Pasar Besar untuk membeli barang kebutuhan bulanan. Pernah suatu ketika, dalam perjalanan untuk sebuah ritual belanja awal bulan, terdengar suara ledakan keras. Kami kaget dibuatnya. Kami menoleh ke kanan-kiri tak ada apa-apa. Tak selang berapa lama, laju vespa menjadi oleng. Menyadari apa yang terjadi, Bapak menepikan vespa ke pinggir jalan. Sayang karena tak bisa menjaga keseimbangan, vespa kami pun terjatuh ke samping membuat kami sekeluarga ikut terjatuh. Rupanya ban depan vespa kami yang pecah (pake sok ngeliat ke kanan-kiri -,-). Untung tak ada yang terluka, termasuk Rudi adikku yang waktu itu umurnya belum genap setahun.

Tanpa disadari, vespa kesayangan bapak ini pun akhirnya menjadi vespa kesayangan kami sekeluarga. Dia terus menemani dan mengantar keluarga kami kemana pun bahkan ketika keluarga kami pindah rumah ke Sragen (1998) dan Gunungkidul (2001).

Sekitar tahun 2003, Bapak mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju Semarang ketika mengendarai vespa ini. Tulang bahu beliau patah, serta beberapa lecet dan memar di wajah dan tangan. Untunglah bapak selamat. Walaupun sejak saat itu, si vespa tidak lagi dapat dijalankan. Usaha perbaikan senantiasa dilakukan, namun karena besarnya biaya yang dibutuhkan, usaha tersebut menjadi terasa sia-sia dan lebih banyak terhenti.  Dan rangka vespa tua itu sedikit demi sedikit pun keropos dimakan waktu.

Namun, sekitar setahun belakangan, perbaikan vespa menjadi semakin giat. Bapak berpacu melawan beban depresiasi vespa ini agar tidak lebih dulu menyentuh titik nilai sisa. Rudi, adikku yang paling giat untuk "menyembuhkan" vespa keramat ini. Dia yang kini sudah duduk di bangku SMA kelas dua merasa perlu memiliki kendaraan bermotor. Dan pada akhirnya, awal tahun 2012 ini, berkat jerih payah Bapak dan Rudi, serta kru bengkel yang tidak kutahu darimana, sang vespa kembali sehat. Vespa ini akhirnya resmi menjadi hak milik Rudi, dimana dia berhak mengendarainya kemanapun ia suka.

Ketika liburan semester lima, aku berkesempatan untuk belajar mengendarai vespa tua ini. Bapak yang memanduku mengendarainya melalui jalan-jalan Gunungkidul. Malam hari adalah waktu yang kupilih untuk belajar memacu kendaraan roda dua antik yang sekilas mirip kura-kura ini. Bukan apa-apa, jalan-jalan di Gunungkidul pada waktu malam hari memang sepi. Sehingga sangat nyaman untukku melajukannya secepat mungkin. Tak terlalu sulit untukku mengendalikan si "kura-kura" ini. Seperti naik motor kopling biasa ternyata. Hanya karena mungkin belum terlalu biasa, beberapa kali kendaraan ini terasa seperti bersin-bersin  dalam kemudiku.

Ditemani hujan rintik-rintik, aku dan bapak melaju di atas vespa memecah keheningan malam dengan suara cempreng yang ditimbulkannya. Angin malam begitu menusuk tak nyaman. Hanya selembar kain jaket tipis kugunakan sebagai penangkalnya. Mulai dari Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Semin, dan pada akhirnya tak terasa, laju vespa ini memasuki wilayah Kecamatan Nglipar. Daerah yang kukenali betul sebagai tempat tinggalku bersama keluarga bertahun-tahun yang lalu. Jalan semakin sepi. Namun, keadaan itu tak membuatku tergerak untuk menambah kecepatan vespa. Aku ingin menikmati jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Nglipar dan Kecamatan Wonosari ini lebih lama. Jalan yang dulu sering kulewati ketika hendak berangkat les ke rumah Pak Topo atau pergi mengaji di TPA yang letaknya di kantor KUA. Melihat lebih jelas rumah tinggal kami yang letaknya berdempetan dengan Koramil 04 Nglipar. Dan sekolahku, SD Nglipar 2 yang gelap serta terlihat angker oleh pohon beringin yang merindang. Tak ada yang berubah. Semua masih sama seperti yang dulu. Hanya jalan raya itu agaknya mengalami pelebaran. Selebihnya hanya perasaanku yang merasa asing karena sudah lama meninggalkan tempat ini.



Dan ketika kami tiba kembali ke rumah, aku masih tak percaya bahwa baru saja melewati rumah yang pernah kutempati dan sudah lama kutinggalkan di Nglipar dengan mengendarai vespa yang lama mati suri dan kini berhasil hidup lagi atas jasa Bapak dan Rudi adikku.



Selengkapnya...

Jumat, 17 Februari 2012

Jalan-jalan Pasar

Sabtu Pahing, 18 Februari 2012. Hari keempat liburanku terhitung sejak pertama kali menginjakkan kaki ke Stasiun Lempuyangan, Jogja.


Tidak ada yang istimewa. Semua berlalu biasa saja. Tapi justru karena biasa itulah yang membuatku senang ada di sini. Desa Wiladeg, Karangmojo, Gunungkidul ini tetap sejuk dan cantik. Mungkin itu sebabnya aku selalu terjaga setiap menjelang pagi. Setelah kuambil air wudhu dan sholat shubuh, tak kupasang lagi selimut tebal itu menghangatkanku. Padahal biasanya ketika ada di Bintaro atau ketika keluargaku masih tinggal di Sragen, salah satu kenikmatan pagi yang tak pernah kutinggalkan adalah tidur lagi setelah menunaikan ibadah sholat shubuh. Entahlah. Seperti ada kepuasan tersendiri ketika bisa mengakali pagi dengan melanjutkan tidur setelah sholat shubuh dalam empat sampai lima jam ke depan; setelah seminggu penuh harus bangun pagi untuk masuk kuliah.
Sedangkan di sini, di Gunungkidul ini, kebiasaan itu tak kulakukan. Badanku ini seperti tak mau melewatkan pergantian malam menjadi pagi. Pemandangan menakjubkan diselimuti udara pagi yang dingin tapi segar. Dingin yang tidak berlebihan seperti ketika ada di Puncak.

Hari ini adalah Pahing dalam penanggalan Jawa. Pahing adalah jadwal pasaran di Karangmojo. Yap! Pasar di sini tidak ada setiap hari. Hanya pada weton-weton tertentu (weton: Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing). Dan pagi-pagi buta tadi Ibu sudah ribut ngajak ke pasar. Beliau butuh kuli panggul kesayangannya: Aku. 


Dengan senang hati kuantar Ibu ke pasar. Karena tempat itulah tempat paling menyenangkan di dunia menurutku. Melihat hiruk-pikuk para mbok-mbok desa menawarkan dagangan mereka membuatku takjub. Terasa sekali perjuangan mereka menghidupi keluarganya masing-masing tanpa kenal lelah. Terlebih setelah tahu bahwa untuk mencapai tempat itu mereka harus berjalan belasan kilometer menaiki dan menuruni bukit dengan barang bawaan hampir tiga kali berat badan mereka sendiri.


Di sudut pasar kulihat sesuatu yang tak asing. Seorang mbok jamu menjajakan minuman berkhasiat racikannya yang khas Jawa itu dibantu anak gadisnya; atau cucu, entahlah. Ketika Ibu mangajakku untuk mendekat, tak kutolak tawaran itu.

Kupesan segelas temu ireng. Jamu berwarna hitam pekat yang rasanya pahit dengan sensasi mint. Ini jamu yang paling nikmat. Karena ramai, terpaksa kami mengantre dan terpaksa pula memperhatikan simbok meracik jamu andalannya.

Pertama, jamu yang dipesan dituang ke dalam gelas setengahnya saja. Kemudian telur ayam kampung dan madu. Terakhir diberi perasan jeruk nipis yang sebelumnya dicolekkan ke semacam pasta yang menurut mbok jamu itu adalah ramuan rahasia yang membuat jamunya nikmat. Dan setelah semua ramuannya masuk gelas. Simbok mengaduk ramuan itu dengan cara mencelupkan seluruh telapak tangannya ke dalam gelas. Yak! Lima jari itu tanpa ragu mengaduk sambil memeras jeruk nipis. Dan semua orang yang mengantre di situ akan meminum racikan jamu yang seperti itu. Dengan senang hati. Tanpa ada protes atau apa pun.

Demi melihat itu kubatalkan pesanan jamuku. Saya adalah orang yang rakus. Tapi saya tidak minum air kobokan. Ibuku yang menyadari alasanku membatalkan pesanan hanya senyum-senyum geli sambil pura-pura mencari-cari dompet.

Tapi itulah Pasar Karangmojo; dan mungkin pasar-pasar lain di Gunungkidul atau sekitarnya. Walaupun sederhana dan barangya kurang lengkap, tapi sebagian besar pengunjung pasar merasa sudah cukup dan tidak kekurangan. Dan Pahing yang akan datang, kupastikan akan kupastikan untuk ada di sini lagi lebih pagi. Tanpa membeli jamu temu ireng tentu saja.
Selengkapnya...

Rabu, 15 Februari 2012

Akhirnya, Setelah Sekian Lama 2

Matahari pagi bersinar cerah di Timur. Tidak ada warna lain yang tersapu sinarnya selain hijau segar. Hangat. Begitu hangat membuat dingin pagi terasa bersahabat. Lalu-lalang ibu-ibu tua yang begitu giat menggendong bawaan berat dengan raut muka -Bismillah semoga pagi ini rejeki ku lancar- membuatku berdecak kagum; atau malah malu karena aku ragu akan bisa sekuat mereka atau tidak. Begitu ramah, begitu bersahaja. Tak ada kesan arogan dalam kepribadian mereka. Menjadikan hangat sinar matahari semakin hangat oleh senyuman mereka.



Di sinilah aku sekarang. Di tempat dimana rezeki orang tuaku berasal. Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak beberapa minggu yang lalu keluargaku memutuskan untuk pindah ke tempat ini. Tempat yang ku kenali sebagai "surga" bagi para pencari kedamaian. Tempat dimana aku pernah bertumbuh menghabiskan masa kecil ku hampir sepuluh tahun yang lalu.

Tak banyak yang berubah. Hanya beberapa minimarket yang perlahan menyerbu. Lainnya masih sama. Masih seperti ketika ku tinggalkan tempat ini hampir sembilan tahun yang lalu. Bahkan pagi ini air PAM di rumahku mati. Terpaksa aku tidak mandi. Tak apalah. Libur. Jadi mandi pun sebaiknya diliburkan pula.

Beberapa temanku beranggapan Gunungkidul adalah tempat kering yang susah air dan tandus sehingga tidak menarik untuk dikunjungi. Tidak salah memang. Hanya aku kurang setuju. Bagiku tempat ini menjanjikan ketenangan yang mumpuni untuk menghilangkan penat orang-orang sepertiku. Orang-orang yang keracunan polusi karena tinggal di kawasan padat yang panas di pinggiran Kota Jakarta.

Dan di sinilah liburanku dimulai. :)
Selengkapnya...

Akhirnya, Setelah Sekian Lama

Selengkapnya...

Sabtu, 11 Februari 2012

Ilusi 2


Scene 1
Inaya     :
“Mas Pram… Mas Pram… Mas Praaaaam….!” (meratap; adegan terakhir Ilusi)
(Tutup Panggung)
Prolog  :
                “Ilusi. Sebuah visualisasi kabur sesuatu. Sesuatu yang nyata tapi tak ada. Terlihat tapi tak berwujud. Terdengar tapi tak bersuara. Tercium tapi tak berbau. Sesuatu yang membingungkanku. Ya Ampun. Aku jadi bingung dibuatnya.
                Ingin kuakhiri hidup ini. Berhenti menyerah pasrah dalam keadaan yang tak kupahami. Aku sungguh tak kuasa membiarkan kebingungan ini menghantui pikiranku. Tapi belakangan kusadari, aku bahkan tak pernah hidup. Jadi untuk apa kuakhiri sesuatu yang tak pernah kumulai?
                (Tutup Panggung)
                Inaya. Seorang gadis manis yang sangat sayang kepada Ayahnya. Aku. Seorang gadis khayalan yang sangat sayang kepada Ayah Inaya. Ups.
                Ini adalah kisah seorang gadis manis bernama Inaya, yang baru saja mengalami mimpi luar biasa tentang Pram; suami khayalannya. Siapakah Pram sebenarnya? Akankah Pram kelak menjadi suami Inaya? Akankah mereka hidup bahagia selamanya seperti kisah-kisah dalam negeri dongeng? Kalau memang benar demikian… (berhenti lama) …Bisa minta ganti ga sih? Aku mau dong yang jadi Inaya aja..”
(Tutup Panggung)
Ayah :
                (Dari luar panggung) “Inaya… Inaya… !”
Inaya :
                (Bangun tidur) “Iya Ayah… “
Ayah :
            (Dari luar panggung) “Mau tidur sampai jam berapa kau, Nak? Sudah siang ini. Kau tak takut terlambat masuk kuliah kah?”
Inaya :
                “Iya, Ayah. Inaya sudah bangun.”
                (Dengan malas beranjak dari tempat tidur)
(Tutup Panggung)
Scene 2
Ayah :
                “Inaya… Kinantya… ayo anak-anakku, kita sarapan sama-sama.”
Kinantya :
                “Iya, Yah.”
                (Masuk Panggung)
Ayah :
                “Mana Kakakmu?”
Kinantya :
                “Entahlah.”
Inaya :
                “Ayah, Inaya berangkat dulu ya.. sudah terlambat.”
Ayah :
                “Tidak sarapan dulu?”
Inaya :
                “Tidak usah. Nanti saja Inaya makan di kantin. Minta uang.”
Ayah :
                “Eiittt… kau pikir uang siapa itu yang kau pakai? Pemborosan! Jangan makan di kantin! Bawa bekal dari rumah saja. Ini uang untuk transport. Naik delman saja kau.”
Inaya :
                “Delman? Mana ada delman jaman sekarang? Hhhh… ya sudahlah, Inaya menumpang teman saja.”
Ayah :
                “Haaa… itu jauh lebih baik.“
Kinantya :
                “Ayah, sebentar lagi Kina Ujian Nasional. Teman-teman Kina semua ikut bimbingan belajar. Kina boleh ikut juga ya, Yah? Ya? Ya?”
Ayah :
               “Ooo… tentu… tentu… persiapan itu memang perlu. Zaman sekarang ini, bisa lulus Ujian Nasional saja belum cukup. Harus tinggi pula nilainya untuk bisa diterima di perguruan tinggi favorit. Kalau nilai ujian kamu tinggi, Ayah pun bisa lebih mudah pamer ke tetangga-tetangga dan juga teman-teman Ayah.”
Kinantya :
                “Cihuuuy… Asyikk… kalau begitu nanti pulang sekolah Kina langsung daftar ya, Yah? Untuk total biayanya Rp1.500.000,- itu sudah termasuk 150 kali pertemuan, buku panduan, dan 20 kali try out. Bisa dicicil atau dibayar lunas sekaligus. Kalau dibayar lunas, Kina bisa dapat kesempatan buat narik kupon hadiah. Lumayan, Yah hadiahnya. Ada jaket, kaos, mp3 player, bahkan liburan gratis ke kebun binatang.”
Ayah :
                “Begini anakku yang cantik. Tak usahlah kau terlalu memikirkan tentang Ujian Nasional itu. Ayah yakin kau pasti mampu menaklukkannya. Berapa pun nilainya, Ayah akan tetap bangga. Tak usah kau hiraukan apa kata orang lain jika kelak nilaimu tidak terlalu baik. Jadi, Ayah pikir, kau tak perlu ikut bimbingan belajar itu.”
Kinantya :
                “Ohhh.”
(Tutup Panggung)
Scene 3
Prolog :
                (Masuk panggung. Berhenti lama.)“Di kampus…”
(Okky dan Anggi sedang berbincang-bincang)
Inaya :
                “Haaaaai… “
Okky dan Anggi :
                “Haaaai… “
Inaya :
                (Jalan meleng. Tidak sengaja menubruk Pram yang juga sedang jalan meleng)
                “Maaf.”
Pram :
                “Saya yang salah. Maaf.”
                (membantu Inaya membereskan buku yang tercecer. Tak sengaja bertemu mata.)
                “Kamu tidak apa-apa?”
Inaya :
                “Tidak.”
Pram :
                (menjulurkan tangan)
                “Saya Pram.”
Inaya :
                (Menyambut tangan Pram)
                “Inaya.”
Okky :
                “Udah makan? Pesen sekalian aja. Kita juga baru pesen kok.”
Inaya :
                “Hmmm, ga ah… aku masih kenyang.”
Anggi :
                “Lho kenapa? Kamu lagi diet? Atau lagi sakit?”
Inaya :
                “Oh, nggak kok. Cuman… Ah, nggak kok. Udah kalian makan aja! Nggak usah mikirin gue. Gue nggak apa-apa kok.”
Okky :
                “Ih, jangan bikin kami penasaran deh. Udah pesen aja! Gue yang bayar.”
Inaya :
                “Beneran? Yaudah deh kalo dipaksa. (noleh kea bang tukang sate) Ngg… Wak, pesen sate kambing dong 20 tusuk. Dagingnya aja ya! Kagak usah pake lemak. Yang sepuluh dimakan di sini, yang sepuluh lagi dibungkus. Lumayan buat di angkot. Trus nasinya setengah porsi; eh dua aja deh sekalian, lumayan buat di angkot. Minumnya jus jeruk satu, jus alpuket satu. Yang jus alpuket dibungkus aja. Buat bekal di angkot.”
Wak Tonek :
                “Bo aboo.. Sampeyan ini makan ta kesurupan?”
Okky :
                “Hhhhh… udah? Nggak kurang? Sekalian aja tuh bakso, soto babat, mie ayam, es campur, batagor, ama siomay lu pesen sekalian! Kalo perlu gerobak sama penjualnya lu bawa. Lumayan buat bekal di angkot.”
Inaya :
                “Alaaaaahh kaya kuat bayar aja.”
Anggi :
                “Hahahaha… eh, Wak! Lagi sibuk nggak? Boleh ganggu bentar nggak?”
Wak Tonek :
                “Oh… tidak, Neng. Saya tidak sibuk taiye. Orang lagi sepi. Ganggu saja saya.”
Anggi :
            “Hehehe… Ramalin aku dong Wak… Temen-temen, Wak Tonek ini jago ngeramal. Tokcer! Ramalannya tuh 98% bener. Biasanya yang 2% salah. Itu pun pas dia lagi bisulan di lobang idung. Hihihi.”
Wak Tonek :
                “Bo abo... Bisa saja sampeyan ini. Ya sudah. Mana tangan kiri sampeyan.”
Anggi :
                (Menjulurkan tangan)
                “Nih… bikin supaya minggu depan aku dilamar pangeran dari Belanda yah!”
Okky :
                “Becanda lo! Mana mau gue punya istri celengan semar?! Udah tangan kaya jahe semua!”
Anggi :
                “Oh, situ Pangeran Belanda? Pangeran berbelahan dada?!”
Wak tonek :
                “Heh… sudah… sudah… hmm, sebentar lagi kesehatan sampeyan terganggu dek. Adek kurang jaga kebersihan rupanya.”
Anggi :
                “Hah? Iya kah?”
Wak tonek :
                “Coba lihat ini dek. Sampeyan habis buang air besar ndak cuci tangan lagi. Bau dek. Untung ndak jek keinjek taiye.”
Anggi :
                “Hah?! Ups! Maaf lupah. Ihihihihi.”
                (Lari keluar panggung)
Inaya :
                “Wak bisa baca mimpi nggak?”
Wak Tonek :
                “Bisa. Asal ada tulisannya saya bisa baca.”
Inaya :
                “Ah, Wak. Gini, Wak, semalam Inaya mimpi, udah punya suami namanya Pram. Tapi ternyata suami dalam mimpi itu cuman khayalan.”
Wak Tonek :
                “Hmmm menurut buku Primbonologi Terapan jilid 3 karanganku sendiri, kemungkinan kamu akan segera bertemu jodohmu. Bagaimana ciri-cirinya?”
Inaya :
                “Dia cowok banhget Wak. Rapi, klimis, wangi, cuman agak pendek. Trus barusan Inaya tabrakan sama cowok yang namanya Pram juga. Tapi mereka nggak mirip.”
Wak tonek :
                “Berati benar taiye. Dia adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan kepadamu.”
(Tutup Panggung)
Scene 4
Kinantya :
                “Bang, udah malem nih. Kina pulang dulu ya? Takut dimarahin Ayah. Apalagi kak Inaya sering ikutan marah-marahin.”
Ayang :
                “Biarkanlah saja dulu kita jalan berdua. Mereka pun pernah muda. Pernah muda.”
Kinantya :
                “Ih, ayang to ttuiiiiiiiitt…”
Ayang :
                “Bila cinta menggugah rasa. Begitu indah mengukir jiwaku. Menyentuh jiwaku. Hapuskan semua gelisah.”
Kinantya :
                “Ayaaaaang… manis banget sih kata-katanyaaaa… Tapi ini udah kemaleman. Besok aja kita ketemuan lagi. Kan libur tuh, guru-guru pada rapat. Gimana kalo besok kita jogging ajah?”
Ayang :
                “Lari pagi-lari pagi, tua muda semua. Lari pagi-lari pagi dan sangat digemari. Lari pagi-lari pagi memang baik sekali. Lari pagi-lari pagi untuk bina jasmani.”
Kinantya :
                “Tadi BCL, trus Padi, barusan Rhoma Irama. Maksudnya apa sih?! Sebel!”
                (Pergi ngeloyor)
Ayang :
                “Kinantya… stop kau mencuri hatiku… hatiku… stop kau mencuri hatiku…”
(Tutup Panggung)
Scene 5
Inaya :
                (sudah di panggung)
Ayah :
                “Inaya, bisa Ayah bicara sebentar?”
Inaya :
                “Bicara apa Ayah? Sepertinya serius sekali?”
Ayah :
                “Begini, Nak, kau sudah hampir 25 tahun. Sudah sewajarnya kau mulai memikirkan masa depanmu. Maksud Ayah, menikah.”
Inaya :
                “Ayah, Inaya kan masih kuliah. Lagipula, Inaya masih ingin menikmati waktu lajang ini. Inaya belum berpikir ke arah itu, Ayah.”
Ayah :
                “Ayah sudah tua, Nak. Ayah ingin segera menimang cucu sebelum…”
Inaya :
                “Ayah! Ngomong apa sih?”
Ayah :
                “Ada teman lama ayah yang juga punya anak sebayamu. Dia janji akan datang malam ini. Kami berharap, kalian akan cocok.”
Inaya :
                “Malam ini?! Mendadak sekali?! Ayah bahkan tidak merundingkannya dengan Inaya jauh-jauh hari! Pokoknya Inaya tidak mau! Inaya tidak mau dijodohkan! Tidak mau!” (keluar panggung)
Ayah :
                “Inaya, dengar ayah dulu, Nak.”
Inaya :
                (keluar panggung, membanting sesuatu)
Ayah :
                (mengeluarkan kalkulator)
                “Ini harganya segini. Ditambah denda karena tidak sopan, jadi segini. Untuk asuransi jantung Ayah, jadi segini. Jadi totalnya adalah seratus dua puluh delapan ribu ampat ratus rupiah!”
(dari luar)
                “Tok… Tok… Tok…”
Ayah :
                (membuka pintu)
                “Silakan masuk! Ah, akhirnya… Apa kabar?”
Ibu Pram :
                “Baik. Terima kasih. Kamu sendiri?”
Ayah :
                “Silakan duduk! Silakan duduk! Saya panggilkan anak-anak saya. (sambil keluar panggung) Inaya! Keluarlah, Nak! Kinantya! Buatkan minum untuk tamu-tamu kita! Sebentar saya tinggal dulu.”
Ayah :
                (keluar sambil menggandeng Inaya yang ogah-ogahan)
Kinantya :
                (keluar sambil membawa nampan)
Ayah :
                “Ini si sulung Inaya. Sudah kuliah semester akhir. Sedang yang ini si bungsu, Kinantya. Baru kelas tiga SMA.”
Kinantya :           
                (Menyalami para tamu)
Inaya :
                (lari ke belakang) “Aaaarghhh…” (kembali ke ruang tamu dengan tampang anggun; menyalami para tamu) “Inaya. Maish ingat aku kan Mas Pram?”
Ibu pram :
                “Kalian sudah saling kenal?”
Ayah :
                “Memang sudah seharusnya. Inaya ini kan kuliah di tempat Pram mengajar.”
Pram :
                “Kamu yang tadi siang tabrakan dengan saya di dekat kantin kan? Perkenalkan, ini Susi istri saya. Dan yang ini Pras anak saya.”
Pras :
                “Haaaloooo Inaaayaaa… aaapaaa kaaabaaar?”
Inaya :
                “Ehe. Baik.”
(semua pemain freeze)
Inaya :
                “jadi saya dijodohkan dengan dia?”
(Tutup Panggung)



Selengkapnya...

Minggu, 15 Januari 2012

Teater-teater...

Satu yang paling aku suka dalam hidup: tampil. Banci tampil. Ga tau kenapa, selalu ada perasaan puas tiap kali aku mendengar suara-suara meriah dan riuh rendah oleh tepuk tangan penonton. Bahkan aku rela telanjang di depan mereka kalo itu bisa memancing gelak tawa dan sorai senang (jangan terlalu dipikirkan, itu hanya upayaku bermulut besar; jadi hanya sekedar teori saja). Dan teater adalah yang aku pilih.

Aku kenal teater sejak kelas dua SMP. Waktu itu aku bergabung dengan ekskul teater di sana. Teater Terass. Terass adalah akronim dari TEateR sekolah menengah pertamA Satu Semarang. Jadi kalo dipanjangkan Teater Teater SMP 1 Semarang. Hebat kan? Udah teater, teater lagi.

Terass dibentuk pada pertengahan tahun 2004. Aku salah satu angkatan pertamanya. Pernah ikut nampil sekali waktu pas perayaan HUT SMP 1 tahun 2005. Jadi Ande-ande Lumut dalam lakon "Prek!". Ga tau deh gimana nasibnya teater itu sekarang, soalnya udah lama banget ga main ke Semarang.

Sekarang aku bergabung dengan ukm teater di kampusku-sekarang aku tercatat sebagai mahasiswa semester 5 prodip 3 akuntansi STAN-. Teater Alir namanya. Ga tau apa maksud dari kata "alir" bagi klub teater ini, tapi yang jelas aku senang bergabung di dalamnya.

Selengkapnya...