Sebuah teka-teki tersembunyi yang tak mudah terungkap
perubahan-perubahan mendasar
bahwa semua kita pasti mengalaminya itu fakta
bias semu mengoyak mencabik memperbarui yang lama
pura-pura memperbarui
karena pada dasarnya yang lama itu tak terganti
dan yang baru itu tak ada
hanya mereka yang benar-benar jeli akan mau tahu bahwa itu benar-benar terjadi
itu tidak janggal dan bukan ulah siapa pun kecuali selayaknya berulah
hanya mereka yang benar-benar beruntung akan mau memanfaatkannya dengan baik
itu membuatnya menjadi lebih baik dari sebelum ia memejamkan mata di matahari sebelumnya
maka ketika aku tak jeli aku tak tahu bahwa itu benar-benar terjadi
itu adalah janggal dan seseorang pasti berulah
maka ketika aku tak beruntung aku tak mau memanfaatkannya dengan baik
itu membuatku lebih buruk dari sebelum aku memejamkan mata di matahari sebelumnya
Sebuah teka-teki itu kini agaknya semakin mudah terungkap
ribuan orang berbondong membodohinya
mencoba bertahan dari gempuran-gempuran yang memaksanya berubah
melawan arus deras yang kencang menyelamatkan diri dari...
tidak ada
Selengkapnya...
JIROLUPAT!
Kamis, 05 April 2012
Analogi Waktu
Jumat, 30 Maret 2012
Akhirnya, Setelah Sekian Lama 3
Kali ini akan kuceritakan kepada kalian sebuah benda keramat kesayangan Bapakku. Sebuah vespa tua yang beliau dapat dari almarhumah nenek karena rajin menabung. Bapak mendapatkan vespa tentu dalam keadaan masih baru sekitar 33 tahun yang lalu atau pada tahun 1979.
Vespa ini menyimpan banyak cerita menarik mengenai pengalaman bapak di masa muda dengan kawan-kawan sekolahnya, pacar-pacar lamanya, dan tentu saja almarhumah nenek. Walaupun seorang pengusaha toko kelontong yang lumayan, nenek tak pernah menggaji orang untuk mengambil stok barang dagangan di Pasar Johar, Semarang. Melainkan memerintahkan bapak yang mengambilnya. Selain supaya hemat beban operasional, hal ini dimaksudkan untuk melatih bapak bekerja dan berwirausaha. Jadilah vespa ini sering dijadikan semacam "kontainer" pengangkut barang-barang dagangan.
Vespa ini tetap menjadi "kaki" keluarga bahkan ketika Bapak sudah menikahi ibuku dan tinggal di Malang. Setiap awal bulan, kami: Bapak, Ibu, Aku, dan Rudi adikku pergi ke Pasar Besar untuk membeli barang kebutuhan bulanan. Pernah suatu ketika, dalam perjalanan untuk sebuah ritual belanja awal bulan, terdengar suara ledakan keras. Kami kaget dibuatnya. Kami menoleh ke kanan-kiri tak ada apa-apa. Tak selang berapa lama, laju vespa menjadi oleng. Menyadari apa yang terjadi, Bapak menepikan vespa ke pinggir jalan. Sayang karena tak bisa menjaga keseimbangan, vespa kami pun terjatuh ke samping membuat kami sekeluarga ikut terjatuh. Rupanya ban depan vespa kami yang pecah (pake sok ngeliat ke kanan-kiri -,-). Untung tak ada yang terluka, termasuk Rudi adikku yang waktu itu umurnya belum genap setahun.
Tanpa disadari, vespa kesayangan bapak ini pun akhirnya menjadi vespa kesayangan kami sekeluarga. Dia terus menemani dan mengantar keluarga kami kemana pun bahkan ketika keluarga kami pindah rumah ke Sragen (1998) dan Gunungkidul (2001).
Sekitar tahun 2003, Bapak mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju Semarang ketika mengendarai vespa ini. Tulang bahu beliau patah, serta beberapa lecet dan memar di wajah dan tangan. Untunglah bapak selamat. Walaupun sejak saat itu, si vespa tidak lagi dapat dijalankan. Usaha perbaikan senantiasa dilakukan, namun karena besarnya biaya yang dibutuhkan, usaha tersebut menjadi terasa sia-sia dan lebih banyak terhenti. Dan rangka vespa tua itu sedikit demi sedikit pun keropos dimakan waktu.
Namun, sekitar setahun belakangan, perbaikan vespa menjadi semakin giat. Bapak berpacu melawan beban depresiasi vespa ini agar tidak lebih dulu menyentuh titik nilai sisa. Rudi, adikku yang paling giat untuk "menyembuhkan" vespa keramat ini. Dia yang kini sudah duduk di bangku SMA kelas dua merasa perlu memiliki kendaraan bermotor. Dan pada akhirnya, awal tahun 2012 ini, berkat jerih payah Bapak dan Rudi, serta kru bengkel yang tidak kutahu darimana, sang vespa kembali sehat. Vespa ini akhirnya resmi menjadi hak milik Rudi, dimana dia berhak mengendarainya kemanapun ia suka.
Ketika liburan semester lima, aku berkesempatan untuk belajar mengendarai vespa tua ini. Bapak yang memanduku mengendarainya melalui jalan-jalan Gunungkidul. Malam hari adalah waktu yang kupilih untuk belajar memacu kendaraan roda dua antik yang sekilas mirip kura-kura ini. Bukan apa-apa, jalan-jalan di Gunungkidul pada waktu malam hari memang sepi. Sehingga sangat nyaman untukku melajukannya secepat mungkin. Tak terlalu sulit untukku mengendalikan si "kura-kura" ini. Seperti naik motor kopling biasa ternyata. Hanya karena mungkin belum terlalu biasa, beberapa kali kendaraan ini terasa seperti bersin-bersin dalam kemudiku.
Ditemani hujan rintik-rintik, aku dan bapak melaju di atas vespa memecah keheningan malam dengan suara cempreng yang ditimbulkannya. Angin malam begitu menusuk tak nyaman. Hanya selembar kain jaket tipis kugunakan sebagai penangkalnya. Mulai dari Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Semin, dan pada akhirnya tak terasa, laju vespa ini memasuki wilayah Kecamatan Nglipar. Daerah yang kukenali betul sebagai tempat tinggalku bersama keluarga bertahun-tahun yang lalu. Jalan semakin sepi. Namun, keadaan itu tak membuatku tergerak untuk menambah kecepatan vespa. Aku ingin menikmati jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Nglipar dan Kecamatan Wonosari ini lebih lama. Jalan yang dulu sering kulewati ketika hendak berangkat les ke rumah Pak Topo atau pergi mengaji di TPA yang letaknya di kantor KUA. Melihat lebih jelas rumah tinggal kami yang letaknya berdempetan dengan Koramil 04 Nglipar. Dan sekolahku, SD Nglipar 2 yang gelap serta terlihat angker oleh pohon beringin yang merindang. Tak ada yang berubah. Semua masih sama seperti yang dulu. Hanya jalan raya itu agaknya mengalami pelebaran. Selebihnya hanya perasaanku yang merasa asing karena sudah lama meninggalkan tempat ini.
Dan ketika kami tiba kembali ke rumah, aku masih tak percaya bahwa baru saja melewati rumah yang pernah kutempati dan sudah lama kutinggalkan di Nglipar dengan mengendarai vespa yang lama mati suri dan kini berhasil hidup lagi atas jasa Bapak dan Rudi adikku.
Selengkapnya...
Jumat, 17 Februari 2012
Jalan-jalan Pasar
Sabtu Pahing, 18 Februari 2012. Hari keempat liburanku terhitung sejak pertama kali menginjakkan kaki ke Stasiun Lempuyangan, Jogja.
Di sudut pasar kulihat sesuatu yang tak asing. Seorang mbok jamu menjajakan minuman berkhasiat racikannya yang khas Jawa itu dibantu anak gadisnya; atau cucu, entahlah. Ketika Ibu mangajakku untuk mendekat, tak kutolak tawaran itu.
Kupesan segelas temu ireng. Jamu berwarna hitam pekat yang rasanya pahit dengan sensasi mint. Ini jamu yang paling nikmat. Karena ramai, terpaksa kami mengantre dan terpaksa pula memperhatikan simbok meracik jamu andalannya.
Pertama, jamu yang dipesan dituang ke dalam gelas setengahnya saja. Kemudian telur ayam kampung dan madu. Terakhir diberi perasan jeruk nipis yang sebelumnya dicolekkan ke semacam pasta yang menurut mbok jamu itu adalah ramuan rahasia yang membuat jamunya nikmat. Dan setelah semua ramuannya masuk gelas. Simbok mengaduk ramuan itu dengan cara mencelupkan seluruh telapak tangannya ke dalam gelas. Yak! Lima jari itu tanpa ragu mengaduk sambil memeras jeruk nipis. Dan semua orang yang mengantre di situ akan meminum racikan jamu yang seperti itu. Dengan senang hati. Tanpa ada protes atau apa pun.
Demi melihat itu kubatalkan pesanan jamuku. Saya adalah orang yang rakus. Tapi saya tidak minum air kobokan. Ibuku yang menyadari alasanku membatalkan pesanan hanya senyum-senyum geli sambil pura-pura mencari-cari dompet.
Tapi itulah Pasar Karangmojo; dan mungkin pasar-pasar lain di Gunungkidul atau sekitarnya. Walaupun sederhana dan barangya kurang lengkap, tapi sebagian besar pengunjung pasar merasa sudah cukup dan tidak kekurangan. Dan Pahing yang akan datang, kupastikan akan kupastikan untuk ada di sini lagi lebih pagi. Tanpa membeli jamu temu ireng tentu saja.
Rabu, 15 Februari 2012
Akhirnya, Setelah Sekian Lama 2
Di sinilah aku sekarang. Di tempat dimana rezeki orang tuaku berasal. Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak beberapa minggu yang lalu keluargaku memutuskan untuk pindah ke tempat ini. Tempat yang ku kenali sebagai "surga" bagi para pencari kedamaian. Tempat dimana aku pernah bertumbuh menghabiskan masa kecil ku hampir sepuluh tahun yang lalu.
Tak banyak yang berubah. Hanya beberapa minimarket yang perlahan menyerbu. Lainnya masih sama. Masih seperti ketika ku tinggalkan tempat ini hampir sembilan tahun yang lalu. Bahkan pagi ini air PAM di rumahku mati. Terpaksa aku tidak mandi. Tak apalah. Libur. Jadi mandi pun sebaiknya diliburkan pula.
Beberapa temanku beranggapan Gunungkidul adalah tempat kering yang susah air dan tandus sehingga tidak menarik untuk dikunjungi. Tidak salah memang. Hanya aku kurang setuju. Bagiku tempat ini menjanjikan ketenangan yang mumpuni untuk menghilangkan penat orang-orang sepertiku. Orang-orang yang keracunan polusi karena tinggal di kawasan padat yang panas di pinggiran Kota Jakarta.
Sabtu, 11 Februari 2012
Ilusi 2
Minggu, 15 Januari 2012
Teater-teater...
Satu yang paling aku suka dalam hidup: tampil. Banci tampil. Ga tau kenapa, selalu ada perasaan puas tiap kali aku mendengar suara-suara meriah dan riuh rendah oleh tepuk tangan penonton. Bahkan aku rela telanjang di depan mereka kalo itu bisa memancing gelak tawa dan sorai senang (jangan terlalu dipikirkan, itu hanya upayaku bermulut besar; jadi hanya sekedar teori saja). Dan teater adalah yang aku pilih.
Aku kenal teater sejak kelas dua SMP. Waktu itu aku bergabung dengan ekskul teater di sana. Teater Terass. Terass adalah akronim dari TEateR sekolah menengah pertamA Satu Semarang. Jadi kalo dipanjangkan Teater Teater SMP 1 Semarang. Hebat kan? Udah teater, teater lagi.
Terass dibentuk pada pertengahan tahun 2004. Aku salah satu angkatan pertamanya. Pernah ikut nampil sekali waktu pas perayaan HUT SMP 1 tahun 2005. Jadi Ande-ande Lumut dalam lakon "Prek!". Ga tau deh gimana nasibnya teater itu sekarang, soalnya udah lama banget ga main ke Semarang.
Sekarang aku bergabung dengan ukm teater di kampusku-sekarang aku tercatat sebagai mahasiswa semester 5 prodip 3 akuntansi STAN-. Teater Alir namanya. Ga tau apa maksud dari kata "alir" bagi klub teater ini, tapi yang jelas aku senang bergabung di dalamnya.
Selengkapnya...

