Scene 1
Inaya :
“Mas
Pram… Mas Pram… Mas Praaaaam….!” (meratap; adegan terakhir Ilusi)
(Tutup
Panggung)
Prolog :
“Ilusi.
Sebuah visualisasi kabur sesuatu. Sesuatu yang nyata tapi tak ada. Terlihat
tapi tak berwujud. Terdengar tapi tak bersuara. Tercium tapi tak berbau.
Sesuatu yang membingungkanku. Ya Ampun. Aku jadi bingung dibuatnya.
Ingin
kuakhiri hidup ini. Berhenti menyerah pasrah dalam keadaan yang tak kupahami.
Aku sungguh tak kuasa membiarkan kebingungan ini menghantui pikiranku. Tapi belakangan
kusadari, aku bahkan tak pernah hidup. Jadi untuk apa kuakhiri sesuatu yang tak
pernah kumulai?
(Tutup
Panggung)
Inaya.
Seorang gadis manis yang sangat sayang kepada Ayahnya. Aku. Seorang gadis
khayalan yang sangat sayang kepada Ayah Inaya. Ups.
Ini
adalah kisah seorang gadis manis bernama Inaya, yang baru saja mengalami mimpi
luar biasa tentang Pram; suami khayalannya. Siapakah Pram sebenarnya? Akankah
Pram kelak menjadi suami Inaya? Akankah mereka hidup bahagia selamanya seperti
kisah-kisah dalam negeri dongeng? Kalau memang benar demikian… (berhenti lama)
…Bisa minta ganti ga sih? Aku mau dong yang jadi Inaya aja..”
(Tutup Panggung)
Ayah :
(Dari
luar panggung) “Inaya… Inaya… !”
Inaya :
(Bangun
tidur) “Iya Ayah… “
Ayah :
(Dari
luar panggung) “Mau tidur sampai jam berapa kau, Nak? Sudah siang ini. Kau tak
takut terlambat masuk kuliah kah?”
Inaya :
“Iya,
Ayah. Inaya sudah bangun.”
(Dengan
malas beranjak dari tempat tidur)
(Tutup Panggung)
Scene 2
Ayah :
“Inaya…
Kinantya… ayo anak-anakku, kita sarapan sama-sama.”
Kinantya :
“Iya,
Yah.”
(Masuk
Panggung)
Ayah :
“Mana
Kakakmu?”
Kinantya :
“Entahlah.”
Inaya :
“Ayah,
Inaya berangkat dulu ya.. sudah terlambat.”
Ayah :
“Tidak
sarapan dulu?”
Inaya :
“Tidak
usah. Nanti saja Inaya makan di kantin. Minta uang.”
Ayah :
“Eiittt…
kau pikir uang siapa itu yang kau pakai? Pemborosan! Jangan makan di kantin!
Bawa bekal dari rumah saja. Ini uang untuk transport. Naik delman saja kau.”
Inaya :
“Delman?
Mana ada delman jaman sekarang? Hhhh… ya sudahlah, Inaya menumpang teman saja.”
Ayah :
“Haaa…
itu jauh lebih baik.“
Kinantya :
“Ayah,
sebentar lagi Kina Ujian Nasional. Teman-teman Kina semua ikut bimbingan
belajar. Kina boleh ikut juga ya, Yah? Ya? Ya?”
Ayah :
“Ooo…
tentu… tentu… persiapan itu memang perlu. Zaman sekarang ini, bisa lulus Ujian
Nasional saja belum cukup. Harus tinggi pula nilainya untuk bisa diterima di
perguruan tinggi favorit. Kalau nilai ujian kamu tinggi, Ayah pun bisa lebih
mudah pamer ke tetangga-tetangga dan juga teman-teman Ayah.”
Kinantya :
“Cihuuuy…
Asyikk… kalau begitu nanti pulang sekolah Kina langsung daftar ya, Yah? Untuk
total biayanya Rp1.500.000,- itu sudah termasuk 150 kali pertemuan, buku
panduan, dan 20 kali try out. Bisa dicicil atau dibayar lunas sekaligus. Kalau
dibayar lunas, Kina bisa dapat kesempatan buat narik kupon hadiah. Lumayan, Yah
hadiahnya. Ada jaket, kaos, mp3 player, bahkan liburan gratis ke kebun binatang.”
Ayah :
“Begini
anakku yang cantik. Tak usahlah kau terlalu memikirkan tentang Ujian Nasional
itu. Ayah yakin kau pasti mampu menaklukkannya. Berapa pun nilainya, Ayah akan
tetap bangga. Tak usah kau hiraukan apa kata orang lain jika kelak nilaimu
tidak terlalu baik. Jadi, Ayah pikir, kau tak perlu ikut bimbingan belajar
itu.”
Kinantya :
“Ohhh.”
(Tutup Panggung)
Scene 3
Prolog :
(Masuk
panggung. Berhenti lama.)“Di kampus…”
(Okky dan Anggi sedang
berbincang-bincang)
Inaya :
“Haaaaai…
“
Okky dan Anggi :
“Haaaai…
“
Inaya :
(Jalan
meleng. Tidak sengaja menubruk Pram yang juga sedang jalan meleng)
“Maaf.”
Pram :
“Saya
yang salah. Maaf.”
(membantu
Inaya membereskan buku yang tercecer. Tak sengaja bertemu mata.)
“Kamu
tidak apa-apa?”
Inaya :
“Tidak.”
Pram :
(menjulurkan
tangan)
“Saya
Pram.”
Inaya :
(Menyambut
tangan Pram)
“Inaya.”
Okky :
“Udah
makan? Pesen sekalian aja. Kita juga baru pesen kok.”
Inaya :
“Hmmm,
ga ah… aku masih kenyang.”
Anggi :
“Lho
kenapa? Kamu lagi diet? Atau lagi sakit?”
Inaya :
“Oh,
nggak kok. Cuman… Ah, nggak kok. Udah kalian makan aja! Nggak usah mikirin gue.
Gue nggak apa-apa kok.”
Okky :
“Ih,
jangan bikin kami penasaran deh. Udah pesen aja! Gue yang bayar.”
Inaya :
“Beneran?
Yaudah deh kalo dipaksa. (noleh kea bang tukang sate) Ngg… Wak, pesen sate
kambing dong 20 tusuk. Dagingnya aja ya! Kagak usah pake lemak. Yang sepuluh
dimakan di sini, yang sepuluh lagi dibungkus. Lumayan buat di angkot. Trus nasinya
setengah porsi; eh dua aja deh sekalian, lumayan buat di angkot. Minumnya jus
jeruk satu, jus alpuket satu. Yang jus alpuket dibungkus aja. Buat bekal di
angkot.”
Wak Tonek :
“Bo
aboo.. Sampeyan ini makan ta kesurupan?”
Okky :
“Hhhhh…
udah? Nggak kurang? Sekalian aja tuh bakso, soto babat, mie ayam, es campur,
batagor, ama siomay lu pesen sekalian! Kalo perlu gerobak sama penjualnya lu
bawa. Lumayan buat bekal di angkot.”
Inaya :
“Alaaaaahh
kaya kuat bayar aja.”
Anggi :
“Hahahaha…
eh, Wak! Lagi sibuk nggak? Boleh ganggu bentar nggak?”
Wak Tonek :
“Oh…
tidak, Neng. Saya tidak sibuk taiye. Orang lagi sepi. Ganggu saja saya.”
Anggi :
“Hehehe…
Ramalin aku dong Wak… Temen-temen, Wak Tonek ini jago ngeramal. Tokcer!
Ramalannya tuh 98% bener. Biasanya yang 2% salah. Itu pun pas dia lagi bisulan
di lobang idung. Hihihi.”
Wak Tonek :
“Bo
abo... Bisa saja sampeyan ini. Ya sudah. Mana tangan kiri sampeyan.”
Anggi :
(Menjulurkan
tangan)
“Nih…
bikin supaya minggu depan aku dilamar pangeran dari Belanda yah!”
Okky :
“Becanda
lo! Mana mau gue punya istri celengan semar?! Udah tangan kaya jahe semua!”
Anggi :
“Oh,
situ Pangeran Belanda? Pangeran berbelahan dada?!”
Wak tonek :
“Heh…
sudah… sudah… hmm, sebentar lagi kesehatan sampeyan terganggu dek. Adek kurang
jaga kebersihan rupanya.”
Anggi :
“Hah?
Iya kah?”
Wak tonek :
“Coba
lihat ini dek. Sampeyan habis buang air besar ndak cuci tangan lagi. Bau dek.
Untung ndak jek keinjek taiye.”
Anggi :
“Hah?!
Ups! Maaf lupah. Ihihihihi.”
(Lari
keluar panggung)
Inaya :
“Wak
bisa baca mimpi nggak?”
Wak Tonek :
“Bisa.
Asal ada tulisannya saya bisa baca.”
Inaya :
“Ah,
Wak. Gini, Wak, semalam Inaya mimpi, udah punya suami namanya Pram. Tapi
ternyata suami dalam mimpi itu cuman khayalan.”
Wak Tonek :
“Hmmm
menurut buku Primbonologi Terapan jilid 3 karanganku sendiri, kemungkinan kamu
akan segera bertemu jodohmu. Bagaimana ciri-cirinya?”
Inaya :
“Dia
cowok banhget Wak. Rapi, klimis, wangi, cuman agak pendek. Trus barusan Inaya
tabrakan sama cowok yang namanya Pram juga. Tapi mereka nggak mirip.”
Wak tonek :
“Berati
benar taiye. Dia adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan kepadamu.”
(Tutup Panggung)
Scene 4
Kinantya :
“Bang,
udah malem nih. Kina pulang dulu ya? Takut dimarahin Ayah. Apalagi kak Inaya
sering ikutan marah-marahin.”
Ayang :
“Biarkanlah
saja dulu kita jalan berdua. Mereka pun pernah muda. Pernah muda.”
Kinantya :
“Ih,
ayang to ttuiiiiiiiitt…”
Ayang :
“Bila
cinta menggugah rasa. Begitu indah mengukir jiwaku. Menyentuh jiwaku. Hapuskan
semua gelisah.”
Kinantya :
“Ayaaaaang…
manis banget sih kata-katanyaaaa… Tapi ini udah kemaleman. Besok aja kita
ketemuan lagi. Kan libur tuh, guru-guru pada rapat. Gimana kalo besok kita
jogging ajah?”
Ayang :
“Lari
pagi-lari pagi, tua muda semua. Lari pagi-lari pagi dan sangat digemari. Lari
pagi-lari pagi memang baik sekali. Lari pagi-lari pagi untuk bina jasmani.”
Kinantya :
“Tadi
BCL, trus Padi, barusan Rhoma Irama. Maksudnya apa sih?! Sebel!”
(Pergi
ngeloyor)
Ayang :
“Kinantya…
stop kau mencuri hatiku… hatiku… stop kau mencuri hatiku…”
(Tutup Panggung)
Scene 5
Inaya :
(sudah
di panggung)
Ayah :
“Inaya,
bisa Ayah bicara sebentar?”
Inaya :
“Bicara
apa Ayah? Sepertinya serius sekali?”
Ayah :
“Begini,
Nak, kau sudah hampir 25 tahun. Sudah sewajarnya kau mulai memikirkan masa
depanmu. Maksud Ayah, menikah.”
Inaya :
“Ayah,
Inaya kan masih kuliah. Lagipula, Inaya masih ingin menikmati waktu lajang ini.
Inaya belum berpikir ke arah itu, Ayah.”
Ayah :
“Ayah
sudah tua, Nak. Ayah ingin segera menimang cucu sebelum…”
Inaya :
“Ayah!
Ngomong apa sih?”
Ayah :
“Ada
teman lama ayah yang juga punya anak sebayamu. Dia janji akan datang malam ini.
Kami berharap, kalian akan cocok.”
Inaya :
“Malam
ini?! Mendadak sekali?! Ayah bahkan tidak merundingkannya dengan Inaya
jauh-jauh hari! Pokoknya Inaya tidak mau! Inaya tidak mau dijodohkan! Tidak
mau!” (keluar panggung)
Ayah :
“Inaya,
dengar ayah dulu, Nak.”
Inaya :
(keluar
panggung, membanting sesuatu)
Ayah :
(mengeluarkan
kalkulator)
“Ini
harganya segini. Ditambah denda karena tidak sopan, jadi segini. Untuk asuransi
jantung Ayah, jadi segini. Jadi totalnya adalah seratus dua puluh delapan ribu
ampat ratus rupiah!”
(dari luar)
“Tok…
Tok… Tok…”
Ayah :
(membuka
pintu)
“Silakan
masuk! Ah, akhirnya… Apa kabar?”
Ibu Pram :
“Baik.
Terima kasih. Kamu sendiri?”
Ayah :
“Silakan
duduk! Silakan duduk! Saya panggilkan anak-anak saya. (sambil keluar panggung)
Inaya! Keluarlah, Nak! Kinantya! Buatkan minum untuk tamu-tamu kita! Sebentar
saya tinggal dulu.”
Ayah :
(keluar
sambil menggandeng Inaya yang ogah-ogahan)
Kinantya :
(keluar
sambil membawa nampan)
Ayah :
“Ini
si sulung Inaya. Sudah kuliah semester akhir. Sedang yang ini si bungsu,
Kinantya. Baru kelas tiga SMA.”
Kinantya :
(Menyalami
para tamu)
Inaya :
(lari
ke belakang) “Aaaarghhh…” (kembali ke ruang tamu dengan tampang anggun;
menyalami para tamu) “Inaya. Maish ingat aku kan Mas Pram?”
Ibu pram :
“Kalian
sudah saling kenal?”
Ayah :
“Memang
sudah seharusnya. Inaya ini kan kuliah di tempat Pram mengajar.”
Pram :
“Kamu
yang tadi siang tabrakan dengan saya di dekat kantin kan? Perkenalkan, ini Susi
istri saya. Dan yang ini Pras anak saya.”
Pras :
“Haaaloooo
Inaaayaaa… aaapaaa kaaabaaar?”
Inaya :
“Ehe.
Baik.”
(semua pemain freeze)
Inaya :
“jadi
saya dijodohkan dengan dia?”
(Tutup Panggung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar