Sabtu, 11 Februari 2012

Ilusi 2


Scene 1
Inaya     :
“Mas Pram… Mas Pram… Mas Praaaaam….!” (meratap; adegan terakhir Ilusi)
(Tutup Panggung)
Prolog  :
                “Ilusi. Sebuah visualisasi kabur sesuatu. Sesuatu yang nyata tapi tak ada. Terlihat tapi tak berwujud. Terdengar tapi tak bersuara. Tercium tapi tak berbau. Sesuatu yang membingungkanku. Ya Ampun. Aku jadi bingung dibuatnya.
                Ingin kuakhiri hidup ini. Berhenti menyerah pasrah dalam keadaan yang tak kupahami. Aku sungguh tak kuasa membiarkan kebingungan ini menghantui pikiranku. Tapi belakangan kusadari, aku bahkan tak pernah hidup. Jadi untuk apa kuakhiri sesuatu yang tak pernah kumulai?
                (Tutup Panggung)
                Inaya. Seorang gadis manis yang sangat sayang kepada Ayahnya. Aku. Seorang gadis khayalan yang sangat sayang kepada Ayah Inaya. Ups.
                Ini adalah kisah seorang gadis manis bernama Inaya, yang baru saja mengalami mimpi luar biasa tentang Pram; suami khayalannya. Siapakah Pram sebenarnya? Akankah Pram kelak menjadi suami Inaya? Akankah mereka hidup bahagia selamanya seperti kisah-kisah dalam negeri dongeng? Kalau memang benar demikian… (berhenti lama) …Bisa minta ganti ga sih? Aku mau dong yang jadi Inaya aja..”
(Tutup Panggung)
Ayah :
                (Dari luar panggung) “Inaya… Inaya… !”
Inaya :
                (Bangun tidur) “Iya Ayah… “
Ayah :
            (Dari luar panggung) “Mau tidur sampai jam berapa kau, Nak? Sudah siang ini. Kau tak takut terlambat masuk kuliah kah?”
Inaya :
                “Iya, Ayah. Inaya sudah bangun.”
                (Dengan malas beranjak dari tempat tidur)
(Tutup Panggung)
Scene 2
Ayah :
                “Inaya… Kinantya… ayo anak-anakku, kita sarapan sama-sama.”
Kinantya :
                “Iya, Yah.”
                (Masuk Panggung)
Ayah :
                “Mana Kakakmu?”
Kinantya :
                “Entahlah.”
Inaya :
                “Ayah, Inaya berangkat dulu ya.. sudah terlambat.”
Ayah :
                “Tidak sarapan dulu?”
Inaya :
                “Tidak usah. Nanti saja Inaya makan di kantin. Minta uang.”
Ayah :
                “Eiittt… kau pikir uang siapa itu yang kau pakai? Pemborosan! Jangan makan di kantin! Bawa bekal dari rumah saja. Ini uang untuk transport. Naik delman saja kau.”
Inaya :
                “Delman? Mana ada delman jaman sekarang? Hhhh… ya sudahlah, Inaya menumpang teman saja.”
Ayah :
                “Haaa… itu jauh lebih baik.“
Kinantya :
                “Ayah, sebentar lagi Kina Ujian Nasional. Teman-teman Kina semua ikut bimbingan belajar. Kina boleh ikut juga ya, Yah? Ya? Ya?”
Ayah :
               “Ooo… tentu… tentu… persiapan itu memang perlu. Zaman sekarang ini, bisa lulus Ujian Nasional saja belum cukup. Harus tinggi pula nilainya untuk bisa diterima di perguruan tinggi favorit. Kalau nilai ujian kamu tinggi, Ayah pun bisa lebih mudah pamer ke tetangga-tetangga dan juga teman-teman Ayah.”
Kinantya :
                “Cihuuuy… Asyikk… kalau begitu nanti pulang sekolah Kina langsung daftar ya, Yah? Untuk total biayanya Rp1.500.000,- itu sudah termasuk 150 kali pertemuan, buku panduan, dan 20 kali try out. Bisa dicicil atau dibayar lunas sekaligus. Kalau dibayar lunas, Kina bisa dapat kesempatan buat narik kupon hadiah. Lumayan, Yah hadiahnya. Ada jaket, kaos, mp3 player, bahkan liburan gratis ke kebun binatang.”
Ayah :
                “Begini anakku yang cantik. Tak usahlah kau terlalu memikirkan tentang Ujian Nasional itu. Ayah yakin kau pasti mampu menaklukkannya. Berapa pun nilainya, Ayah akan tetap bangga. Tak usah kau hiraukan apa kata orang lain jika kelak nilaimu tidak terlalu baik. Jadi, Ayah pikir, kau tak perlu ikut bimbingan belajar itu.”
Kinantya :
                “Ohhh.”
(Tutup Panggung)
Scene 3
Prolog :
                (Masuk panggung. Berhenti lama.)“Di kampus…”
(Okky dan Anggi sedang berbincang-bincang)
Inaya :
                “Haaaaai… “
Okky dan Anggi :
                “Haaaai… “
Inaya :
                (Jalan meleng. Tidak sengaja menubruk Pram yang juga sedang jalan meleng)
                “Maaf.”
Pram :
                “Saya yang salah. Maaf.”
                (membantu Inaya membereskan buku yang tercecer. Tak sengaja bertemu mata.)
                “Kamu tidak apa-apa?”
Inaya :
                “Tidak.”
Pram :
                (menjulurkan tangan)
                “Saya Pram.”
Inaya :
                (Menyambut tangan Pram)
                “Inaya.”
Okky :
                “Udah makan? Pesen sekalian aja. Kita juga baru pesen kok.”
Inaya :
                “Hmmm, ga ah… aku masih kenyang.”
Anggi :
                “Lho kenapa? Kamu lagi diet? Atau lagi sakit?”
Inaya :
                “Oh, nggak kok. Cuman… Ah, nggak kok. Udah kalian makan aja! Nggak usah mikirin gue. Gue nggak apa-apa kok.”
Okky :
                “Ih, jangan bikin kami penasaran deh. Udah pesen aja! Gue yang bayar.”
Inaya :
                “Beneran? Yaudah deh kalo dipaksa. (noleh kea bang tukang sate) Ngg… Wak, pesen sate kambing dong 20 tusuk. Dagingnya aja ya! Kagak usah pake lemak. Yang sepuluh dimakan di sini, yang sepuluh lagi dibungkus. Lumayan buat di angkot. Trus nasinya setengah porsi; eh dua aja deh sekalian, lumayan buat di angkot. Minumnya jus jeruk satu, jus alpuket satu. Yang jus alpuket dibungkus aja. Buat bekal di angkot.”
Wak Tonek :
                “Bo aboo.. Sampeyan ini makan ta kesurupan?”
Okky :
                “Hhhhh… udah? Nggak kurang? Sekalian aja tuh bakso, soto babat, mie ayam, es campur, batagor, ama siomay lu pesen sekalian! Kalo perlu gerobak sama penjualnya lu bawa. Lumayan buat bekal di angkot.”
Inaya :
                “Alaaaaahh kaya kuat bayar aja.”
Anggi :
                “Hahahaha… eh, Wak! Lagi sibuk nggak? Boleh ganggu bentar nggak?”
Wak Tonek :
                “Oh… tidak, Neng. Saya tidak sibuk taiye. Orang lagi sepi. Ganggu saja saya.”
Anggi :
            “Hehehe… Ramalin aku dong Wak… Temen-temen, Wak Tonek ini jago ngeramal. Tokcer! Ramalannya tuh 98% bener. Biasanya yang 2% salah. Itu pun pas dia lagi bisulan di lobang idung. Hihihi.”
Wak Tonek :
                “Bo abo... Bisa saja sampeyan ini. Ya sudah. Mana tangan kiri sampeyan.”
Anggi :
                (Menjulurkan tangan)
                “Nih… bikin supaya minggu depan aku dilamar pangeran dari Belanda yah!”
Okky :
                “Becanda lo! Mana mau gue punya istri celengan semar?! Udah tangan kaya jahe semua!”
Anggi :
                “Oh, situ Pangeran Belanda? Pangeran berbelahan dada?!”
Wak tonek :
                “Heh… sudah… sudah… hmm, sebentar lagi kesehatan sampeyan terganggu dek. Adek kurang jaga kebersihan rupanya.”
Anggi :
                “Hah? Iya kah?”
Wak tonek :
                “Coba lihat ini dek. Sampeyan habis buang air besar ndak cuci tangan lagi. Bau dek. Untung ndak jek keinjek taiye.”
Anggi :
                “Hah?! Ups! Maaf lupah. Ihihihihi.”
                (Lari keluar panggung)
Inaya :
                “Wak bisa baca mimpi nggak?”
Wak Tonek :
                “Bisa. Asal ada tulisannya saya bisa baca.”
Inaya :
                “Ah, Wak. Gini, Wak, semalam Inaya mimpi, udah punya suami namanya Pram. Tapi ternyata suami dalam mimpi itu cuman khayalan.”
Wak Tonek :
                “Hmmm menurut buku Primbonologi Terapan jilid 3 karanganku sendiri, kemungkinan kamu akan segera bertemu jodohmu. Bagaimana ciri-cirinya?”
Inaya :
                “Dia cowok banhget Wak. Rapi, klimis, wangi, cuman agak pendek. Trus barusan Inaya tabrakan sama cowok yang namanya Pram juga. Tapi mereka nggak mirip.”
Wak tonek :
                “Berati benar taiye. Dia adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan kepadamu.”
(Tutup Panggung)
Scene 4
Kinantya :
                “Bang, udah malem nih. Kina pulang dulu ya? Takut dimarahin Ayah. Apalagi kak Inaya sering ikutan marah-marahin.”
Ayang :
                “Biarkanlah saja dulu kita jalan berdua. Mereka pun pernah muda. Pernah muda.”
Kinantya :
                “Ih, ayang to ttuiiiiiiiitt…”
Ayang :
                “Bila cinta menggugah rasa. Begitu indah mengukir jiwaku. Menyentuh jiwaku. Hapuskan semua gelisah.”
Kinantya :
                “Ayaaaaang… manis banget sih kata-katanyaaaa… Tapi ini udah kemaleman. Besok aja kita ketemuan lagi. Kan libur tuh, guru-guru pada rapat. Gimana kalo besok kita jogging ajah?”
Ayang :
                “Lari pagi-lari pagi, tua muda semua. Lari pagi-lari pagi dan sangat digemari. Lari pagi-lari pagi memang baik sekali. Lari pagi-lari pagi untuk bina jasmani.”
Kinantya :
                “Tadi BCL, trus Padi, barusan Rhoma Irama. Maksudnya apa sih?! Sebel!”
                (Pergi ngeloyor)
Ayang :
                “Kinantya… stop kau mencuri hatiku… hatiku… stop kau mencuri hatiku…”
(Tutup Panggung)
Scene 5
Inaya :
                (sudah di panggung)
Ayah :
                “Inaya, bisa Ayah bicara sebentar?”
Inaya :
                “Bicara apa Ayah? Sepertinya serius sekali?”
Ayah :
                “Begini, Nak, kau sudah hampir 25 tahun. Sudah sewajarnya kau mulai memikirkan masa depanmu. Maksud Ayah, menikah.”
Inaya :
                “Ayah, Inaya kan masih kuliah. Lagipula, Inaya masih ingin menikmati waktu lajang ini. Inaya belum berpikir ke arah itu, Ayah.”
Ayah :
                “Ayah sudah tua, Nak. Ayah ingin segera menimang cucu sebelum…”
Inaya :
                “Ayah! Ngomong apa sih?”
Ayah :
                “Ada teman lama ayah yang juga punya anak sebayamu. Dia janji akan datang malam ini. Kami berharap, kalian akan cocok.”
Inaya :
                “Malam ini?! Mendadak sekali?! Ayah bahkan tidak merundingkannya dengan Inaya jauh-jauh hari! Pokoknya Inaya tidak mau! Inaya tidak mau dijodohkan! Tidak mau!” (keluar panggung)
Ayah :
                “Inaya, dengar ayah dulu, Nak.”
Inaya :
                (keluar panggung, membanting sesuatu)
Ayah :
                (mengeluarkan kalkulator)
                “Ini harganya segini. Ditambah denda karena tidak sopan, jadi segini. Untuk asuransi jantung Ayah, jadi segini. Jadi totalnya adalah seratus dua puluh delapan ribu ampat ratus rupiah!”
(dari luar)
                “Tok… Tok… Tok…”
Ayah :
                (membuka pintu)
                “Silakan masuk! Ah, akhirnya… Apa kabar?”
Ibu Pram :
                “Baik. Terima kasih. Kamu sendiri?”
Ayah :
                “Silakan duduk! Silakan duduk! Saya panggilkan anak-anak saya. (sambil keluar panggung) Inaya! Keluarlah, Nak! Kinantya! Buatkan minum untuk tamu-tamu kita! Sebentar saya tinggal dulu.”
Ayah :
                (keluar sambil menggandeng Inaya yang ogah-ogahan)
Kinantya :
                (keluar sambil membawa nampan)
Ayah :
                “Ini si sulung Inaya. Sudah kuliah semester akhir. Sedang yang ini si bungsu, Kinantya. Baru kelas tiga SMA.”
Kinantya :           
                (Menyalami para tamu)
Inaya :
                (lari ke belakang) “Aaaarghhh…” (kembali ke ruang tamu dengan tampang anggun; menyalami para tamu) “Inaya. Maish ingat aku kan Mas Pram?”
Ibu pram :
                “Kalian sudah saling kenal?”
Ayah :
                “Memang sudah seharusnya. Inaya ini kan kuliah di tempat Pram mengajar.”
Pram :
                “Kamu yang tadi siang tabrakan dengan saya di dekat kantin kan? Perkenalkan, ini Susi istri saya. Dan yang ini Pras anak saya.”
Pras :
                “Haaaloooo Inaaayaaa… aaapaaa kaaabaaar?”
Inaya :
                “Ehe. Baik.”
(semua pemain freeze)
Inaya :
                “jadi saya dijodohkan dengan dia?”
(Tutup Panggung)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar