Sabtu, 14 Januari 2012

ILUSI


Scene 1
Drama diawali dengan dua pemain utama yang saling duduk bersandar punggung satu sama lain. Dengan senyuman misterius dan tatapan mata kosong ke depan.
Inaya-Pram        :    “Cinta. Sejati. Kau. Dan aku.”
      
Scene 2
Ayah                 :    “Inaya… Inaya…”
Inaya                 :    (di luar panggung)“Iya, Ayah…”
Ayah                 :    “Tolong ambilkan map atas meja kerja Ayah! Ayah lupa membawanya tadi.”
Inaya                 :    (masih di luar panggung)“Yang warnanya biru bukan?”
Ayah                 :    “Iya… iya…”
Inaya                 :    (sambil jalan masuk panggung)“Ayah, ceroboh sekali. Untung tidak sampai tertinggal.”
Ayah                 :    “Namanya juga sudah tua. Makanya cepet beri Ayah cucu. Biar sebelum Ayah pergi, Ayah sudah mengenal cucu Ayah.”
Inaya                 :    “Ih, ayah ngomongin apa sih?”
Ayah                 :    “Hahaha, ya sudah Ayah berangkat dulu. Kamu hati-hati di rumah.”
Inaya                 :    “Iya, Ayah. Hati-hati di jalan.”
Scene 3
Pram                  :    “Selamat Pagi Istriku yang cantik.”
Inaya                 :    “Selamat pagi suamiku yang baik. Mau sarapan sekarang? Biar aku siapkan.”
Pram                  :    “Aku belum lapar. Buatkan saja aku…”
Pram-Inaya        :    “Kopi pekat, tanpa gula, tanpa krimmer, airnya jangan terlalu panas, jangan pula terlalu dingin.”
                               (tertawa terbahak-bahak)
Inaya                 :    (meninggalkan panggung)“Sebentar ya.”
Pram                  :    (sambil membaca Koran hari ini)“Ayah pagi-pagi sekali sudah berangkat?”
Inaya                 :    (dari dapur)”Iya, ada rapat dengan relasi katanya.”
Pram                  :    “Ayahmu itu memang luar biasa. Di usianya yang hampir kepala tujuh masih memiliki semangat kerja yang tinggi.”
Inaya                 :    (masuk panggung membawa kopi)“Ayah tadi menyinggung-nyinggung soal momongan. Sepertinya dia sudah tidak sabar.”
Pram                  :    “Kau sendiri?”
Inaya                 :    “Mas Pram, bisa aja.”
(kedua pemain keluar panggung)
Scene 4
Ayah                 :    (tok…tok…tok…)”Assalamu’alaikum.”
Inaya-Pram        :    “Wa’alaikusalam.”
Inaya                 :    (salim ke ayah) “Bagaimana kantor hari ini, Ayah?”
Ayah                 :    “Ya begitulah. Tidak ada yang istimewa. Tolong siapkan air hangat. Ayah ingin mandi.”
Inaya                 :    “Baik Ayah.”
(sudah siap Ayah dan Pram duduk bersebelahan. Tidak ada percakapan antara keduanya.)
                               “Ayah, airnya sudah siap. Mau mandi sekarang?”
Ayah                 :    “Oh, iya. Terima kasih.”(berjalan meninggalkan panggung)
Inaya                 :    “Kau terlihat aneh.”
Pram                  :    “Oh ya?”
Inaya                 :    “Tak biasanya kau senyum-senyum seperti itu.”
Pram                  :    “Aku ada kejutan buat kamu.”
Inaya                 :    “Kejutan?”
Pram                  :    “Tunggu di sini ya!”(keluar panggung)
Ayah                 :    (masuk panggung, memperhatikan Inaya)
Pram                  :    (menghampiri Inaya)“Tutup mata kamu!”
Inaya                 :    “Kejutan apa sih?”
Pram                  :    “Sekarang buka mata kamu!”
Inaya                 :    (terkejut)”apa ini?”
Pram                  :    “Bukalah!”
Inaya                 :    “Indah sekali!”(memeluk Pram)
                               “Terima kasih.”
(Ayah terkejut atas apa yang disaksikannya. Inaya berbicara dengan orang yang tidak diketahuinya)
Scene 5
Dokter               :    “Anak anda mengidap Schizophrenia. Penderita gangguan ini sering paranoid. Schizophrenia adalah mimpi buruk dimana kita tidak dapat mengetahui yang tak nyata. Bayangkan bila kita tiba-tiba tahu orang, tempat, waktu, yang berarti bukan hilang atau mati, tapi memang tak pernah ada. Neraka macam apa itu?”
Ayah                 :    “Apa yang harus saya lakukan?”
Dokter               :    “Terapi insulin. Ini akan sangat menyiksa. Tapi itu jalan satu-satunya jalan yang dapat kita lakukan.”
Ayah                 :    “Seberapa sering?”
Dokter               :    “Lima kali dalam seminggu. Selama sepuluh minggu.”
Scene 6
(di rumah)
Ayah                 :    “Inaya.”
Inaya                 :    “Iya, Ayah.”
Ayah                 :    “Ayah ingin bicara.”
Inaya                 :    “Bicara apa? Kok sepertinya serius gitu?”
Ayah                 :    “Dimana Dia?”
Inaya                 :    “Mas Pram? Dia sedang keluar kota. Ada urusan bisnis katanya.”
Ayah                 :    “Apa pekerjaannya?”
Inaya                 :    “Ayah! Kok pertanyaannya seperti itu? Seperti Ayah tidak pernah mengenal menantu sendiri.”
Ayah                 :    “Ayah memang tidak pernah mengenalnya.”
Inaya                 :    “Maksud Ayah?”
Ayah                 :    “Tidak ada yang namanya Pram.”
Inaya                 :    “Tidak mungkin! Dia Pram! Dia suamiku! Aku menyeduhkannya kopi setiap pagi! ‘Kopi pekat, tanpa gula, tanpa krimmer, airnya jangan terlalu panas, jangan pula terlalu dingin’ itu yang dia pesan kepadaku!”
Ayah                 :    “ini yang kamu maksud? Tak pernah tersentuh sedikitpun.” (menunjukkan cangkir berisi kopi penuh)
Inaya                 :    “Tidak mungkin!” (meratap dan melenguh)
Scene 7
Dokter               :    “Inaya?”
Inaya                 :    (bergeming, ketakutan)
                               “Siapa kamu? Mana Mas Pram?”
Dokter               :    “Dia baik-baik saja. Ikutlah denganku.”
Inaya                 :    “Bohong! Aku tidak mengenalmu! Siapa kau?!”
Dokter               :    “Tenanglah.”
Inaya                 :    “Tidak! Dimana Mas Pram?! Dimana dia?! Dimana dia?!”
Dokter               :    “Beri dia bius thorazine. Lalu bawa dia ke ambulance.”
Petugas 1, 2, 3   :    “Baik dok.”
(petugas 1 menyuntikkan cairan ke lengan Inaya. Petugas 2 dan Petugas 3 menggujer Inaya; menggotong Inaya yang sudah tak sadarkan diri ke luar panggung)
Scene 8 (epilog)
Inaya mengeram. Marah. Takut. Memanggil-manggil Pram.
Inaya                 :         “Mas Pram…. Mas Pram…. Mas Pram….”








Tidak ada komentar:

Posting Komentar